Tugas Softskill ke-4

TUGAS SOFTSKILL

ETIKA BISNIS

logo_gunadarma

MIFTA MUZAKI
14212573
4 EA07

JURUSAN MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016

  1. Artikel Pertanian Organik Modern

Beberapa tahun terakhir, pertanian organik modern masuk dalam sistem pertanian Indonesia secara sporadis dan kecil-kecilan. Pertanian organik modern berkembang memproduksi bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Tetapi secara umum konsep pertanian organik modern belum banyak dikenal dan masih banyak dipertanyakan. Penekanan sementara ini lebih kepada meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang.

Dalam sistem pertanian organik modern diperlukan standar mutu dan ini diberlakukan oleh negara-negara pengimpor dengan sangat ketat. Sering satu produk pertanian organik harus dikembalikan ke negara pengekspor termasuk ke Indonesia karena masih ditemukan kandungan residu pestisida maupun bahan kimia lainnya.

Banyaknya produk-produk yang mengklaim sebagai produk pertanian organik yang tidak disertifikasi membuat keraguan di pihak konsumen. Sertifikasi produk pertanian organik dapat dibagi menjadi dua kriteria yaitu:

a) Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri. Kegiatan pertanian ini masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Pengendalian OPT dengan menggunakan biopestisida, varietas toleran, maupun agensia hayati. Tim untuk merumuskan sertifikasi nasional sudah dibentuk oleh Departemen Pertanian dengan melibatkan perguruan tinggi dan pihak-pihak lain yang terkait.

b) Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri, seperti misalnya sertifikasi yang dikeluarkan oleh SKAL ataupun IFOAM. Beberapa persyaratan yang harus dipenuhi antara lain masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik.

Beberapa komoditas prospektif yang dapat dikembangkan dengan sistem pertanian organik di Indonesia antara lain tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, tanaman rempah dan obat, serta peternakan, (Tabel 2). Menghadapi era perdagangan bebas pada tahun 2010 mendatang diharapkan pertanian organik Indonesia sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional.

(sumber https://sistempertanianorganik.wordpress.com/category/artikel-pertanian-organik/)

(Argumen)

Seperti yang diungkapkan pada artikel di atas, target Indonesia untuk pertanian organik di Indonesia pada tahun 2010 sudah dapat mengekspor produknya ke pasar internasional, namun pada kenyataannya sampai saat ini tahun 2016 Indonesia masih terus mengimpor produk bahan pangan dari berbagai negara pengekspor pangan, jadi sampai saat ini Indonesia masih belum bisa mengekspor produk pangan karena keterbatasan pertanian yang sudah banyak berhenti akibat mahalnya biaya perawatan yang dilakukan petani, dan kurangnya bantuan yang diberikan dari pemerintah yang mengakibatkan bertambahnya menurunan aktifitas pertanian organik Indonesia.

2. Artikel Peternakan

Potensi Usaha Budidaya Ikan

Usaha budidaya ikan air tawar semakin hari semakin menggiurkan. Menurut laporan Badan Pangan PBB, pada tahun 2021 konsumsi ikan perkapita penduduk dunia akan mencapai 19,6 kg per tahun. Meski saat ini konsumsi ikan lebih banyak dipasok oleh ikan laut, namun pada tahun 2018 produksi ikan air tawar akan menyalip produksi perikanan tangkap.

Mengapa demikian, karena produksi perikanan tangkap akan mengalami penurunan akibat overfishing. Ikan di laut semakin sulit didapatkan. Bahkan bila tidak ada perubahan model produksi, para peneliti meramalkan pada tahun 2048 tak ada lagi ikan untuk ditangkap.

Dengan kata lain tidak akan ada lagi menu seafood di piring kita! Oleh karena itu diperlukan peningkatan produksi budidaya ikan air tawar sebagai subtitusi ikan laut. Sehingga kita bisa memberikan ruang kepada biota laut untuk berkembang biak.

Tingkat konsumsi ikan

Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk yang sangat besar merupakan pasar potensial untuk produk perikanan. Apalagi fakta saat ini menunjukkan konsumsi ikan perkapita Indonesia masih sangat rendah jika dibandingkan dengan konsumsi penduduk negara berkembang lainnya.

Kalau kita menilik laporan KKP pada tahun 2011, konsumsi ikan masyarakat Indonesia hanya berada diangka 31,5 kg per tahun. Coba bandingkan dengan Malaysia yang mencapai 55,4 kg per tahun! Kabar baiknya, pertumbuhan rata-rata konsumsi ikan di Indonesia cukup tinggi 5,04 persen per tahun. Jauh diatas Malaysia yang hanya 1,26 persen per tahun.

Dengan tumbuhnya perekonomian Indonesia, kesadaran masyarakat akan konsumsi ikan semakin tinggi. Ditambah lagi dengan adanya program Gemar Makan Ikan yang dikampanyekan KKP, angka konsumsi akan terus bergerak naik.

Budidaya ikan air tawar

Dari sisi produksi, pada tahun 2011 produksi perikanan nasional mencapai 12,39 juta ton. Dari jumlah itu, produksi perikanan tangkap sebanyak 5,41 juta ton dan produksi perikanan budidaya 6,98 juta ton.

Dari total produksi perikanan budidaya, jumlah budidaya ikan dalam kolam air tawar menyumbangkan angka hingga 1,1 juta ton. Sisanya adalah budidaya tambak air payau, budidaya di laut, budidaya dalam keramba dan budidaya jaring apung.

Kenaikan produksi budidaya ikan dalam kolam air tawar cukup pesat yaitu berkisar 11 persen setiap tahun. Hal ini menujukkan ada gairah besar di masyarakat untuk mengembangkan usaha budidaya ikan air tawar. Tentunya pertumbuhan produksi ini mengacu pada permintaan pasar yang terus meningkat.

Lebih dari 70 persen produksi ikan air tawar diserap oleh pasar dalam negeri. Pulau Jawa menjadi penyerap terbesar mengingat jumlah penduduknya yang padat. Apabila dilihat dari potensinya, kebutuhan untuk pulau Jawa saja masih akan terus berkembang. Mengingat konsumsi per kapita ikan di Jawa masih di bawah konsumsi per kapita di luar Jawa.

(sumber : http://alamtani.com/ikan-air-tawar.html)

(Argumen)

Berwirausaha memang tidak memandang usia, muda mau pun tua semua orang bisa melakukannya asalkan mempunyai kemauan yang tinggi dan mau untuk belajar kepada yang sudah berpengalaman. Tingkat pengangguran yang tinggi membuat para pencari kerja berfikir keras untuk menentukan arah tujuannya, dan bermula dari hobi dan berbagai pengalaman yang sudah ada dan berbagai keberhasilan yang menguntungkan mereka mulai mencoba untuk menambah penghasilan. Persepsi ini memang harus ditanamkan kepada para agen muda agar setalah lulus sekolah atau kerja tidak harus mendaftar kerja, namun dapat juga mengimplementasikan ilmu yang sudah dipelajari ke dalam wirausaha.

3. Artikel Kelautan

Potensi Perikanan dan Kelautan Masih Besar

Sebagai negara maritim, Indonesia belum mampu mendayagunakan sumber daya laut secara optimal dan tantangan yang datang dari kelautan bukan hanya tantangan terhadap pemerintah, tetapi harus dihadapi oleh dunia usaha.

“Indonesia harus lebih memanfaatkan potensi sektor kelautan yang ada, jangan biarkan nilai potensi yang mencapai Rp20 triliun hilang begitu saja,” kata Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bidang Perikanan dan Kelautan, Yugi Prayanto di Jakarta, Selasa (15/1).

Jika Indonesia serius menggarap sektor perikanan dan kelautan, menurut Yugi, Indonesia bisa menjadi produsen nomor satu di dunia.

“Saat ini, China yang memiliki luas perairan lebih kecil dari Indonesia menjadi produsen terbesar di dunia. Sementara Indonesia hanya mampu berada di posisi ke tujuh dunia,” paparnya.

Dilihat dari sisi business dan ekonomi, lanjut Yugi, kontribusi industri perikanan Indonesia masih sangat kecil.

“Pada 2011 ekspor ikan Indonesia baru mencapai US$3,34 miliar dengan luas perairan 5,88 juta kilo meter persegi. Angka ekspor pada tahun lalu diperkirakan naik menjadi US$ 5 miliar dengan produksi 12 juta ton,” ujarnya.

Yugi menambahkan, sektor kelautan masih belum mendapat perhatian dari para investor. Dengan masih besarnya pangsa investasi di darat, maka diperlukan upaya keras untuk menarik para investor terjun ke investasi maritim.

“Pemerintah dan pelaku usaha perlu mengembangkan sumber daya kelautan melalui investasi yang bersifat terpadu atau integrated investment. Untuk memperbaiki keadaan dan meningkatkan efektivitas, pemerintah harus lebih memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang ada di lapangan terutama bagi nelayan, misalnya dengan pengadaan cold storage dan Depo BBM di sekitar wilayah nelayan karena sering terjadi kelangkaan,” tandasnya.

(sumber http://penyuluhkp.blogspot.co.id/2013/04/potensi-perikanan-dan-kelautan.html)

(Argumen)

Indonesia memang memiliki sumber daya alam yang sangat berlimpah, dengan sumber daya manusia yang bagus pemanfaatan yang ada di Indonesia dapat digunakan secara efektif, namun pengontrolan yang kurang dari pemerintah membuat para nelayan di Indonesia mulai berkurang akibat pelarangan penggunaan alat tangkap ikan karena dapat merusak ekosistem laut. Pelarangan ini direspon baik oleh para nelayan sekaligus dikeluhkan oleh para nelayan, para nelayan mengeluhkan tindakan yang dilakukan oleh pemerintah tidak memberikan solusi baik, meskipun nelayan akan berenti menggunakan alat tanggap tersebut namun tidak mendapat solusi sampai saat ini, yang menjadikan pengurangan tangkapan ikan pada setiap harinya, berkurangnya penghasilan yang didapat membuat para nelayan menggunakan alat tangkap yang dilarang tersebut dan ekosistem laut kembali hancur.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s